NEWS

Miris, Maraknya Pungutan Liar Agensi

Miris, Maraknya Pungutan Liar Agensi!

Etty Diallova | TIMedia

 

Maya (23) BMI asal Lampung korban pungli agensi

 

Kehidupan sebagai Buruh Migran Indonesia (BMI) tak seindah drama Korea yang terpampang  di  sosial media. Tak sedikit BMI yang berjuang mati-matian guna mendapatkan hak mereka sesuai undang-undang yang berlaku. Kisah Maya (23) adalalah salah satunya. BMI asal Desa Labuhan Ratu Dua, Kec. Way Jepara, Kab. Lampung Timur ini harus menjalani pekerjaan sebagai pemulung sampah pada kali pertama kedatangannya di Taiwan. April 2017, Maya mengawali kontraknya di Ciayi Country. Ia bekerja pada majikan Zhang Gui Lan dengan menandatangani kontrak untuk menjaga seorang ama. Tetapi pada prateknya, apa yang Maya kerjakan jauh dari perjanjian kontrak (PK) tersebut. Setiap hari pukul 04.00 pagi hari ia harus menyusuri jalan guna mencari sampah daur ulang hingga pukul 10.00. Sepulang memulung sampah, ama pun tak segera memberinya sarapan, melainkan menyuruh Maya beres-beres rumah. Wanita alumnus SMK 1 Budi Utomo ini bisa mencicipi makanan setelah pukul 12.00 sekaligus makan siang. Itu pun hanya bubur nasi putih tanpa lauk pauk. Tak hanya perihal makanan, Maya juga tidak mendapatkan tempat istirahat yang layak dari majikan.

 

Atas bantuan kakaknya yang bekerja di Taipei dibantu Satgas KDEI, agensi  datang  menjemput Maya  untuk pindah ke majikan yang baru. Meskipun  semua itu harus melalui perdebatan yang alot. Alih-alih mendapat nasib lebih baik, agensi yang menaungi Maya--Yuanchin-- justru melakukan pemotongan gaji dengan dalih sebagai biaya ganti majikan. Maya tinggal di kantor agensi selama 26 hari, yang dikenakan biaya sebesar NTD 7.800.  Di majikan yang kedua, Maya menjaga seorang kakek yang mengidap penyakit gula darah. Sayangnya Maya bekerja di sana hanya  1,5 bulan, Karena kakek yang ia jaga meninggal dunia pada 9 Juni 2017 silam.

 

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga

Dewi Fortuna belum berpihak pada Maya. Dalam waktu dua bulan ia harus berpindah majikan sebanyak tiga kali. Jangankan berkirim untuk keluarga di kampung halaman, uang gaji Maya habis untuk membayar potongan pada agensi sebagai fee mencarikan majikan. Di majikan  ketiga, wanita yang berasal dari PT Wahana Karya Suplai Indo ini harus merogoh kocek sebesar  NTD 5460 sebagai dana kompensasi ganti majikan. Pada gajian ketiga terhitung 14/6 hingga 5/7 Maya hanya menerima uang sebesar NTD 1000 yang ditransfer agensi ke rekeningnya. Setiap dimintai keterangan perihal gaji, agensi selalu menghindar. Tak hanya kepada Maya, pungutan liar (Pungli)  tersebut mereka berlakukan pada seluruh anah buah mereka. Berkat bantuan Serve the People Association (Shelter SPA) , Rabu (25/7/17) didampingi oleh Yan-Po Lu atau yang akrab dipanggil Mr. Pho, Maya pun mendapatkan hak-hak kembali. Shelter SPA membuatkan pengaduan atas Pungli yang Maya alami ke Departemen Ketenagakerjaan (Depnaker).  Setelah melalui perdebatan  antara Agenci Yuanchin dan Maya yang didampingi pihak Shelter SPA, yang dilaksanakan di Depnaker Ciayi, akhirnya ia pun mendapatkan kembali uang sebesar NTD 11.000 yang ditelah diambil agensi. Bahkan ia pun dibebaskan hutang sebesar NTD 5000 kepada agensi. Tak hanya mendapatkan uangnya kembali, Maya juga dapat berganti majikan dan ikut satu agensi dengan kakaknya di Taipei.

Terbongkarnya kasus Maya, membuka tabir kerasnya hidup sebagai BMI. Di luar sana masih banyak Maya- Maya lain, yang harus bekerja rodi tanpa gaji, karena uang mereka habis dipotong oleh agensi.