NEWS

Pemerintah Taiwan Bantah Adanya Kerja Paksa Terhadap Ratusan Mahasiswa Indonesia

Belakangan ini marak pemberitaan tentang penyalahgunaan izin yang dilakukan enam universitas di Taiwan diduga mengirim ratusan mahasiswa Indonesia ke pabrik untuk menjalani kerja paksa. Enam universitas ini telah tandatangani perjanjian mahasiswa dari New Southbound Policy (NSP), justru menjadi buruh di pabrik. Bahkan pemberitaan juga menyebutkan, mahasiswa yang mayoritas beragama Islam harus mengkonsumsi makanan yang mengandung daging babi.

KDEI Taipei telah meminta keterangan dan berkordinasi dengan otoritas setempat guna mendalami implementasi skema kuliah-magang yang berlangsung mulai 2017 melalui Program The New Southbond Policy, dibawah pimpinan presiden Tsay Yong Wen. Pemerintah otoritas setempat diminta untuk mengambil langkah guna melindungi kepentingan serta keselamatan mahasiswa peserta skema kuliah-magang.

Menyikapi pemberitaan tersebut, Pemerintah Taiwan melalui kantor perwakilannya di Indonesia, Taipei Economic and Trade Office (TETO), membantah adanya praktik kerja paksa ratusan mahasiswa Indonesia di Taiwan dalam Program Magang Industri-Universitas. Kepala TETO John C. Chen mengatakan, Kementerian Pendidikan Taiwan sudah mendatangi dan mewawancarai seluruh mahasiswa Indonesia di Universitas Sains dan Teknologi Hsing Wu, dan melakukan konfrensi pers pada Jumat (4/1/19).

“Para mahasiswa menyangkal bahwa mereka dilecehkan dan melakukan kerja paksa dalam program magang tersebut," ujar Chen dalam konferensi pers.

Chen juga mengatakan, Kementerian Pendidikan Taiwan memastikan semua kegiatan magang di luar kampus sudah sesuai dengan ketentuan di Undang-undang Ketenagakerjaan Taiwan. Dalam program magang, mahasiswa hanya diizinkan bekerja maksimal 20 jam seminggu pada tahun pertama. Ini pun bersifat paruh waktu dan tidak wajib. Jika mahasiswa keberatan bekerja, mereka boleh berhenti. Namun dengan konsekuensi tak dapat pemasukan dari gaji.

Pada tahun pertama, mahasiswa hanya diperbolehkan bekerja maksimal 20 jam, atau bekerja 2,5 hari dengan waktu 8 jam per harinya. Sedangkan pada tahun kedua, mahasiswa boleh bekerja hingga 40 jam. Terdiri dari 20 jam kerja paruh waktu dan 20 jam kerja magang. Dalam sepekan mahasiswa bekerja 4 hari, 2 hari kuliah, dan 1 hari libur. Chen juga menambahkan, seluruh mahasiswa Indonesia di Universitas Sains dan Teknologi Hsing Wu memilih untuk melanjutkan kuliah di universitas itu meski ditawari pindah ke universitas lain. [Etty]