NEWS

Vonis 15 Tahun Penjara untuk Indayani, TKI Ilegal Pembunuh Majikannya

Vonis 15 Tahun Penjara untuk Indayani, TKI Ilegal Pembunuh Majikannya

Foto Indayani, mantan majikan dan mobil tempat pembunuhan

Setelah melalui beberapa kali sidang dan pemeriksaan, Mahkamah agung pada Selasa (25/7/17) menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara kepada Indayani. TKI ilegal asal Blitar  yang membunuh mantan majikannya bermarga Lin pada 18 Mei 2015 silam. Tragedi pembunuhan terjadi di depan toko  sarapan pagi di Zhubei, Hsinchu pada pukul 04.00 pagi hari. Pembunuhan tersebut dilatarbelakangi dendam, karena selama bekerja Lin kerap memperlakukan terdakwa tidak baik bahkan ada sisa gaji yang belum dibayar.

Pengadilan tersebut  membenarkan keputusan sebelumnya yang diambil Pengadilan District Shinchu dan Pengadilan Tinggi Taiwan. Keputusan tersebut merupakan final, sehingga terdakwa tidak memiliki kesempatan untuk naik banding, meskipun perwakilan Indonesia memohon kepada pengadilan untuk memberikan keringanan hukuman karena terdakwa menderita penyakit kejiwaan atau gangguan mental. Tetapi pengadilan tetap beranggapan penusukan tersebut telah direncanakan, karena terjadi enam bulan setelah Indayani keluar kerja dari toko tersebut.

Pagi hari, ketika Lin akan membuka toko sarapan pagi, secara membabi buta Indayani menyerang dan menusuknya saat korban berada di depan kemudi. Korban meninggal dunia di tengah perjalanan menuju rumah sakit karena pendarahan hebat. Setelah menghabisi korban, Indayani sempat membersihkan pisau yang berlumuran darah kemudian naik taksi menuju tempat kerjanya yang baru. Penangkapan Indayani berdasarkan CCTV di seputar tempat kejadian.

Selain didasari niat balas dendam, terdakwa juga tidak beritikad baik untuk berdamai dengan keluarga korban. Sehingga hukuman 15 tahun penjara merupakan hal yang setimpal untuk mempertanggungjawabkan kejahatan yang ia lakukan. Sedangkan saat di persidangan, Indayani membantah jika ia sengaja melakukan penusukan kepada mantan majikannya tersebut. Indayani datang ke toko menemui Lin untuk meminta sisa gaji yang belum dibayar. Namun Lin menolak untuk membayarnya, sehingga terjadilah cekcok antara keduanya dan saling mendorong. Sehingga terjadilah penusukan secara tidak sengaja, sedangkan pisau dibawa oleh Indayani hanya untuk sekedar berjaga-jaga. (Etty)