NEWS

Kisah Pilu TKI di Suriah, Dipaksa Melayani Anak Majikan Hingga Hamil


Press rilis Polri, perihal pelaku human trafficking

Tak habis cerita kelam yang dialami Pekerja Migran Indonesia (PMI) di negeri orang. Seperti yang dialami wanita berinisial EH. Pekerja Indonesia yang mengadu nasib di Suriah ini membeberkan cerita getir selama diperlakukan sebagai budak dan diperkosa oleh majikan. Wanita tersebut dihadirkan dalam rilis pengungkapan kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang digelar Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Selasa (9/4/19).

Korban mengadukan nasibnya ke kantor KBRI Damaskus karena tidak digaji selama 3 bulan oleh majikannya. Namun, alih-alih mendapat pertolongan, EH justru diusir dan menerima perlakuan tidak menyenangkan. EH juga menjadi korban pemerkosaan yang dilakukan oleh anak majikannya hingga hamil.

"Saya minta pertolongan secara baik-baik ke KBRI Damaskus, tapi saya malah dicaci maki. Mereka berkata jika tubuh saya tidak kena pukul oleh majikan, saya belum boleh mengadukan hal itu," tutur EH.

Bukannya memberi bantuan, EH juga nyaris diperas pegawai di KBRI Damaskus. Jika ia ingin pulang ke Indonesia, maka harus membayar uang sebesar 8 ribu dolar. Selain itu, EH juga dipenjara lantaran dituduh telah mencuri yang tanpa adanya barang bukti. Setelah terlunta-lunta, EH justru diselamatkan oleh KBRI Baghdad serta mendapat jaminan dari pengacara yang bernama Seed Foundation sehingga berhasil dibebaskan dari tahanan. 

EH sengaja tampil di depan publik, agar kisahnya dapat menjadi pelajaran, sehingga tidak ada lagi kekerasan dan penelantaran para TKI di luar negeri. Bahkan, dia mengimbau pada masyarakat untuk tidak bekerja di luar negeri sebagai pembantu rumah tangga dengan iming-iming gaji besar. Cukuplah ia yang hidup dalam penindasan di negara orang.

Rilis Press dilakukan karena Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri menangkap 8 pelaku terkait kasus perdagangan orang. Banyak pekerja migran yang menjadi korban kejahatan tersebut dan di jual ke sejumlah negara di Timur Tengah sebagai pekerja rumah tangga (PRT). Polisi mengamankan Abdul Halim Erlangga terkait jaringan Suriah. Lelaki tersebut merupakan agen pemberangkatan yang telah menjual kurang lebih 300 orang sejak tahun 2014. Dari hasil kejahatannya, tersangka meraup keuntungan senilai Rp 900 juta

Kini tersangka harus mempertanggung jawabkan kesalahannya, dengan jeratan Pasal 4 dan Pasal 10 Undang-Undang (UU) Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan human trafficking dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara, dan UU penempatan tenaga kerja dengan hukuman 10 tahun. [Etty]