NEWS

Problematika Menjadi Pekerja Migran Ilegal di Taiwan

Problematika Menjadi Pekerja Migran Ilegal di Taiwan

Fenomena Pekerja Migran Indonesia (PMI) Kaburan nampaknya belum berakhir. Menurut Laporan Statistik dari National Immigration Agency (NIA) Taiwan menyampaikan saat ini jumlah PMI kaburan berkisar 24.000 orang, yang tersebar di seluruh penjuru Taiwan, (2017). Sungguh fakta yang mencengangkan, karena jumlah pekerja kaburan dari Indonesia menduduki peringkat  tertinggi kedua setelah Vietnam.

Dengan adanya PMI kaburan negara harus mengeluarkan budget yang tidak sedikit untuk pemulangan/biaya pengobatan yang sejatinya dapat digunakan untuk membiayai atau menyantuni TKI resmi yang kurang beruntung seperti sakit, kecelakaan dan lain sebagainya.

Beberapa kasus yang mencuat di pemberitaan, bagaimana para PMI ilegal menderita sakit parah (kanker otak, gagal ginjal, atau stroke), kecelakaan kerja, kecelakaan lalu lintas, hamil, melahirkan, pembunuhan dan lain sebagainya. Semuanya merupakan permasalahan serius yang menuntut penanganan pemerintah.

Faktor Penyebab Menjadi Pekerja Ilegal

Beberapa factor yang memicu tindak kaburan adalah ketidakbetahan, ketidakpuasan, gagal menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada, pekerjaan tidak sesuai dengan yang diharapkan (ekspektasinya terlalu tinggi), tidak mengetahui saluran pengaduan, maupun dipengaruhi oleh  oknum tertentu dengan iming-iming gaji tinggi atau fasilitas yang lebih baik, ingin mendapatkan kebebasan.

Permasalahan yang Timbul Setelah Menjadi Pekerja Ilegal

Menjadi pekerja migran ilegal rentan teerhadap permasalahan. Kaburan kerap menjadi target sasaran yang mudah dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab, Selain itu berapa masalah yang timbul setelah menjadi kaburan adalalah

  • Pekerja ilegal kehilangan haknya sebagai TKA di Taiwan dan rentan akan eksploitasi, dimanfaatkan sebagai kurir narkoba, masuk dalam prostitusi dan umumnya pekerjaannya yang melanggar hukum dan HAM lainnya.
  • Rentan akan kekerasan (verbal/fisik), intimidasi, dan pemerasan,
  • Bila terjadi musibah (kecelakaan, sakit, meninggal), tidak dicover lagi oleh asuransi di Taiwan,
  • Rentan mengalami penyakit berbahaya (kanker/tumor/stroke/HIV) karena bekerja tidak sesuai dengan peraturan/ketentuan,
  • Sering bernasib kurang baik, antara lain terlantar, kerja paksa, dan lain sebagainya.

Dengan segala risiko yang dihadapi setelah menjadi pekerja migran ilegal, diharapkan agar berpikir ulang  menjadi kaburan. Bila menemui permasalahan, dapat menghubungi Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI),  Taipei, Tim satgas, atau grup media social pengaduan TKI di Taiwan. 

Menjadi kaburan atau pun tidak, merupakan hak setiap individu. Namun, bukankah lebih baik menyayangi diri sendiri dengan melindungi keselamatan di bawah undang-undang ketenagakerjaan dari segala hal yang tidak diinginkan.

[Etty]