NEWS

Lebih dari 80.000 Pekerja Migran Memilih Perpanjang Kontrak di Taiwan Akibat Pandemi COVID-19

Lebih dari 80.000 Pekerja Migran Memilih Perpanjang Kontrak di Taiwan Akibat Pandemi COVID-19

Pandemi global Covid-19 mengikis impian pekerja migran di Taiwan untuk cuti pulang dan bertemu keluarga di kampung halaman. Lebih dari 80.000 pekerja migran asing memilih tetap bertahan untuk bekerja di Taiwan, baik di pekerjaan lama ataupun tempat kerja baru. Hal ini dikarenakan pemerintah Taiwan mengurangi masuknya imigran asing guna mencegah penyebaran Covid-19.

Badan Pengembangan Tenaga Kerja Kementerian Tenaga Kerja Taiwan (WDA) mengurangi pergerakan lintas batas negara, menunda kedatangan pekerja asing, serta mewajibkan para pengusaha untuk meningkatkan manajemen pencegahan penyebaran Covid-19. Langkah-langkah ini dilakukan berdasarkan ketentuan Pusat Komando Epidemi Taiwan (CECC), dimana pada bulan Maret penilaian resiko virus corona di Indonesia, Vietnam, Filipina, dan Thailand mulai meningkat, Sedangkan, negara-negara tersebut merupakan sumber tenaga kerja asing utama di Taiwan.

Setidaknya telah ada 82.324 kontrak pekerja migran asing yang telah memperpanjang, atau mereka dipindahkan ke majikan dan pekerjaan lain pada bulan Juni lalu. Kondisi terbaru ini dicatat setetelah pemerintah memperkenalkan insentif bagi para pengusaha atau majikan, agar mereka memperbarui kontrak kerja para pekerja atau orang lain yang telah ada di Taiwan.

Hingga akhir Juni, setidaknya telah ada 726 pengusaha yang mengajukan izin jangka pendek – 3 hingga 6 bulan – untuk mempekerjakan warga negara asing yang berada di Taiwan karena penghentian penerbangan internasional. Tidak kurang 1.685 orang juga telah melamar perpanjangan kerja 3 bulan.

Menurut Kementerian Tenaga Kerja Taiwan (MOL), para pengusaha atau majikan yang ingin mendatangkan pekerja migran asing ke Taiwan diharuskan untuk memberikan sertifikasi pengaturan karantina sejak tanggal 27 Maret lalu. Mereka juga harus membayar biaya karantina sebesar NT$ 10.500 (US$ 357), jumlah ini dihitung dari biaya per hari sebesar NT$ 1500, dengan subsidi dari pemerintah sebesar 50%. 

[Etty]