NEWS

Bagaimana Nasib Pekerja Migran Indonesia di Tengah Pandemi COVID-19?

Bagaimana Nasib Pekerja Migran Indonesia di Tengah Pandemi COVID-19?

Wabah Pandemi COVID-19 belum juga usai, bahkan diperkirakan akan memasuki gelombang kedua pada musim dingin mendatang. Taiwan Literature Award for Migrants mengadakan acara talk show dengan mengusung tema “Kehidupan Pekerja Migran di Tengah Pandemi COVID-19”. Talk show ini mengundang tiga pembicara yakni Huiyi Zhou (Independent Writer), Etty Diallova (Winner Taiwan Literature Award For Migrants) dan Weichenh Huang (Glombal Ministery of Labor).

Dalam talk show tersebut, Etty menceritakan mengapa ia mengusung tema “Janji Dimasa Pandemi” dan memenangkan dua kategori perlombaan dengan total hadiah 2 trofi dan uang tunai  sebesar NTD 40.000. Etty yang juga merupakan penulis dari CLC TIMedia juga menceritakan permasalahan apa yang ia temui di kalangan pekerja migran Indonesia (PMI) di masa pandemi ini.

Banyaknya permasalah yang dihadapi oleh pekerja migran di sektor informal, seperti

1. Pekerja mendapat tekanan untuk tidak libur, karena majikan takut mereka tertular dan membawa virus ke rumah yang dapat menular ke mereka dan keluarga.

2. Tuntutan untuk lebih intens menjaga kebersihan dan kerja ekstra bersih. Sehingga durasi jam kerja menjadi lebih panjang dan menyita “waktu istirahat”. Namun sayangnya tidak mendapat tambahan upah lembur, dikarenakan “ketidakjelasan” jumlah jam kerja di sektor informal dalam satu harinya. 

3. Bertambahnya pekerjaan dikarenakan harus mengantre untuk membeli masker dan handsanitizer. Belum lagi pekerjaan di rumah yang juga harus diselesaikan.

4. Majikan tidak memberikan masker sehingga pekerja harus mengeluarkan uang sendiri untuk membelinya.

5. Stigma miring dari penduduk lokal, terutama di tempat umum seperti MRT, post office dan tempat lainnya.

Sedangkan beberapa permasalahan yang dihadapi oleh pekerja di sektor formal

1. Pabrik libur sehinga adanya pengurangan gaji (diganti menjadi gaji harian), karena menurunnya jumlah produksi dan penghasilan pabrik.

2. Lembur tidak dibayar karena untuk mengganti hari libur.

3. Pabrik menyuruh libur dan memotong cuti tahunan (Ini tidak dibenarkan kecuali dengan kesepakatan kedua belah pihak)

4. Tidak sedikit perusahaan yang melakukan pemutusan kerja sepihak (PHK), dikarenakan  pabrik mengalami penurunan produksi.

Pada kesempatan tersebut, Etty juga menyuarakan tuntutannya mewakili pekerja migran lainnya kepada pemerintah Taiwan agar lebih memperhatikan kesejahteraan pekerja migran terutama di sektor informal pada saat pandemi dan mendapatkan banyak tekanan pekerjaan  dari majikan. Mengingat sebanyak 74%  Pekerja migran Indonesia merupakan sektor informal dan 26% di sektor formal.

Pekerja migran sektor informal juga menunjang siklus perekonomian di Taiwan, yang mengalami kekurangan tenaga kerja di usia produktif sehingga para lansia tidak ada yang menjaga, karena anak-anak mereka harus bekerja.

Menanggapi permasalahan dan tuntutan yang disampaikan, salah satu pemenang TLAM 2020, Huang mengatakan selama ini pihak berwenang juga berusaha sekeras mungkin untuk memberikan kesejahteraan pada para imigran di Taiwan. Dalam masa pandemi ini, MOL juga memikirkan bagaiamana para pekerja migran ilegal bisa mendapatkan masker karena tidak memiliki kartu kesehatan sehingga mereka tidak dapat membeli di apotek yang telah ditunjuk pemerintah.

Terkait kesejahteraan pekerja di sektor informal, MOL sendiri telah mengajukan kepada sektor informal kepada legeslatif namun mendapat penolakan. Tetapi pihaknya berjanji akan memberikan kesejahteraan dan kepada semua pihak.

“Kami juga mengajukan beberapa kali perihal masuknya sektor informal ke dalam UU tenaga kerja, tetapi ditolak oleh legislatif di tolak. Namun pihaknya akan terus berusaha untuk memberikan kesejahteraan bagi pekerja asing di Taiwan,” tutur Huang.

Ia juga menambahkan lebih lanjut, keterbatasan jumlah kamar untuk karantina menjadi penyebab agar pekerja migran tidak melakukan cuti ke kampung halaman. Karena dikhawatirkan saat kembali ke Taiwan tidak ada tempat karantina. Selain itu untuk meminimalisir penyebaran antar perbatasan, saat para pekerja kembali dari negara asal yang memiliki tingkat penularan tinggi seperti Indonesia dan Filipina.

[Etty]