NEWS

TERCIDUK PEKERJA VIETNAM BUKA KLINIK KECANTIKAN ILEGAL

TERCIDUK PEKERJA VIETNAM BUKA KLINIK KECANTIKAN ILEGAL

Seorang pekerja migran asal Vietnam ditahan  karena  membuka klinik kecantikan secara ilegal. Pekerja migran Vietnam, Trinh (25) ternyata telah menjalankan bisnis ilegal tersebut sejak tahun 2018. Selama membuka bisnis kecantikan ilegal tersebut, Badan Imigrasi Nasional Taiwan (NIA) mengatakan, pelaku mendapatkan keuntungan mencapai NTD 3.000.000.

Penggerebekan dilakukan menyikapi adanya informasi pada bulan Agustus lalu yang mengatakan ada seorang perempuan Vietnam, yang bekerja di sebuah pabrik di Hsinchu, memiliki tempat usaha klinik kecantikan tanpa izin di daerah Taoyuan.

Dalam penyelidikan terungkap, Trinh datang ke Taiwan untuk bekerja sejak tahun 2014. Ia kemudian membuka sebuah tempat usaha, dekat dengan Stasiun Kereta Taoyuan pada tahun 2018 sebagai “kegiatan sampingan” yang merupakan tempat operasi kosmetik mikro tanpa izin dari dokter.

Layanan kecantikan yang dilakukan Trinh antara lain adalah lip filler, suntik botoks dan hyaluronan, hingga pengangkatan tahi lalat dan operasi kelopak mata ganda, berdasarkan keterangan dari tim NIA. Trinh bahkan menyiarkan operasi kecantikannya di halaman Facebook untuk menarik para klien lain.

Berkat strategi publisitas yang sukses, serta biaya layanannya yang relatif rendah, beberapa klien Trinh termasuk pekerja migran dan penduduk setempat percaya bahwa dia adalah seorang praktisi berlisensi. Selama dua tahun terakhir dia melakukan operasi mikro pada sekitar 300-400 klien dan menghasilkan keuntungan sekitar NTD 3.000.000.

Saat dilakukan penggerebekan pada hari Minggu (01/11/20) bersama dengan seorang jaksa dan pejabat Suku Dinas Kesehatan Masyarakat Taoyuan, Trinh sedang membius wajah kliennya yang juga merupakan seorang pekerja migran asal Vietnam. Selama penggeledahan di lokasi tersebut, penyidik menyita pisau bedah, jarum medis, botol botox dan hyaluronan, serta obat anestesi. Di tempat sampah mereka juga menemukan kapas bernoda darah.

Saat diinterogasi, Trinh mengatakan dia belajar melakukan operasi kosmetik mikro saat bekerja di salon kecantikan di Vietnam, dan tidak menyadari bahwa lisensi dokter diperlukan untuk melakukan layanan tersebut di Taiwan. Pelaku dipindahkan ke Kantor Kejaksaan Distrik Taoyuan untuk penyelidikan lebih lanjut atas pelanggaran Undang-Undang Kedokteran. Akibat ulahnya yang berpraktik sebagai dokter tanpa izin, Trinh terancam hukuman lima tahun penjara dan denda hingga NTD 1,5 juta.

[Etty]