NEWS

Nina, PMI Asal Indramayu Penderita Anemia Aplastic Telah Sembuh!

Nina, PMI Asal Indramayu Penderita Anemia Aplastic Telah Sembuh!

Masih ingatkah Nina Herlina? Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang didiagnosis Anemia Aplastic (AA), yakni penyakit yang disebabkan oleh ketidakmampuan sumsum tulang memproduksi sel darah baru dalam jumlah yang cukup sehingga harus melakukan transplansi tulang sumsum. Pasca merebaknya wabah COVID-19, otoritas Taiwan membuka pintu perbatasannya untuk pertama kali pada bulan Juni silam dan mendatangkan anggota keluarga Nina ke Taiwan untuk menjalankan Transplantasi Sel Punca Hematopoietik (HSCT).

Pada bulan November, pekerja yang berasal dari Indramayu ini mengalami gangguan Menorrhagia atau pendarahan berlebihan saat menstruasi datang. Nina seringkali mengalami pusing, kelelahan dan demam yang sangat menganggu aktivitas sehari-harinya, sehingga harus menjalani perawatan di rumah sakit. Mengetahui pekerja lemah dan dalam keadaan sakit, majikan pun melakukan pemutusan hubungan kerja secara sepihak.

Berkat bantuan dari Asosiasi TIWA (Taiwan International Worker’s Association), Nina pun dipindahkan ke rumah sakit Taipei Veterans General Hospital. Tim dokter merekomendasikan untuk segera menjalankan prosedur Transplantasi Sel Punca Hematopoietik (HSCT). Di tengah maraknya wabah COVID-19, sempat membuat prosedur pengobatan HSCT sedikit tertunda. Apalagi kendala bahasa dan anggota keluarga Nina yang bermukim di kawasan pedesaan juga menambah kerumitan pengobatan. Sehingga pada bulan Juni tahun 2020, Ibunda dan kedua adik perempuannya pun mendarat di Bandara Internasional Taoyuan.

Setelah dilakukan pemeriksaan oleh tim Taipei Veterans General Hospital, dapat dipastikan bahwa adik perempuan Nina memiliki kecocokan sebagai pendonor atau related donor (RD).

Setelah menjalani prosedur isolasi selama 21 hari, tim dokter Taipei Veterans General Hospital pun langsung melaksanakan prosedur transplantasi. Proses Transplantasi Sel Punca Hematopoietik (HSCT) berjalan dengan lancar. Setelah menjalani perawatan insentif selama 9 bulan, jumlah sel darah putih dan trombosit Nina berangsur normal.

Tim dokter pun menyatakan bahwa tubuh pasien sudah memperlihatkan kondisi yang terus membaik dan memperbolehkannya untuk pulang ke rumah. Pada tanggal 5 November 2020, Taipei Veterans General Hospital menggelar jumpa pers dan merayakan keberhasilan ini. Nina pun menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Taiwan yang sudah membuka pintu perbatasannya, di tengah masa pandemi seperti saat ini.

Nina sangat berterima kasih kepada TIWA dan semua pihak yang telah membantunya dalam proses penyembuhan. Ia mengatakan rasa kemanusiaan Taiwan tidak dapat tertandingi. Taiwan mengedepankan nilai moralitas dengan menyelamatkan nyawa kaum minoritas sebagai pekerja migran.

[Etty]