NEWS

KDEI Pulangkan Tiga Balita Terlantar di Taiwan

Foto dok. Yurong.tw

Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia memfasilitasi pemulangan tiga balita dari pekerja migran Indonesia (PMI) berstatus ilegal di Taiwan pada  hari Jumat (20/9/19) lalu. Ketiga balita tersebut bernama Hasya Mahendra Harwanto, Imam Ghazali, dan Aqila Putri Maharani.

Ketiga bocah tersebut dipulangkan agar mereka mendapatkan hak-hak sebagai Warga Negara Indonesia (WNI): terjamin kesejahteraan, mendapatkan tempat yang layak untuk tumbuh dan berkembang. Yang paling penting, menghindarkan mereka dari adopsi sepihak dan mengembalikan mereka pada keluarga di Indonesia.

“Ketiga balita yang dipulangkan merupakan anak dari PMI perempuan yang bekerja secara tidak resmi di Taiwan. Karena status keimigrasian ibunya tersebut, ketiga balita ini tidak bisa mendapatkan izin tinggal resmi di Taiwan,” tutur Kepala KDEI Taiwan Didi Sumedi.

Tiga balita tersebut juga tidak bisa mendapatkan akses jaminan kesehatan dari otoritas Taiwan, sehingga rentan diadopsi secara sepihak karena ketidakjelasan statusnya. Sebelumnya, mereka dititipkan ke panti asuhan yang sebenarnya bukan penampungan khusus anak. Karena jumlahnya yang terus meningkat, panti asuhan tidak lagi dapat mengakomodir mereka.

Sesuai amanat UU No. 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas UU No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, KDEI Taipei dan Kementerian Luar Negeri RI membantu memfasilitasi pemulangan mereka ke tanah air. Setibanya di Indonesia, ketiga balita tersebut diserahterimakan ke Kementerian Sosial RI untuk selanjutnya menjalani program reintegrasi dengan keluarganya di daerah asal.

Berdasarkan pemantauan KDEI Taipei, jumlah kelahiran bayi warga negara Indonesia kian meningkat. Sebagian besar dari anak-anak tersebut lahir tanpa adanya status pernikahan. Mereka dilahirkan oleh PMI ilegal, sehingga kondisi tersebut menyulitkan pemenuhan hak-hak anak, antara lain identitas diri dan pendidikan. (Etty)