NEWS

Moorissa Tjokro, Minoritas Gender dan Ras Asal Indonesia di Balik Kecanggihan Mobil Tesla

Moorissa Tjokro, Minoritas Gender dan Ras Asal Indonesia di Balik Kecanggihan Mobil Tesla

Kisah perempuan bernama Moorissa Tjokro yang hanya berusia 26 tahun ini memang sangat menginspirasi. Dengan berbagai prestasi dan pencapaiannya di usia yang masih muda, bisa dibilang ia adalah salah satu puteri kebanggaan tanah air. Bagaimana tidak, Dari 110 insinyur yang bekerja pada Tesla, hanya terdapat 6 perempuan dan Moorissa Tjokro adalah salah satunya.

Profesinya di Tesla juga tidak kalah sulit, ia bekerja sebagai Autopilot Software Engineer di kantor pusat Tesla, di California, Amerika Serikat. Tugas yang ia kerjakan yakni mengenai cara mobil dapat mendeteksi lingkungan sekitar, bermanuver ke kiri dan ke kanan, evaluasi serta melakukan testing untuk menghitung segala risiko agar dapat memberikan keamanan bagi penggguna mobil yang dapat mengemudi secara otomatis ini.

Saat ini, dia terlibat langsung dalam pengembangan system full self-driving yang merupakan system otonom level lima atau yang paling tinggi, sehingga mobil dapat bergerak tanpa campur tangan manusia. Untuk melakukan pekerjaan ini, paling tidak Moorissa harus bekerja 60 hingga 70 jam per minggunya.

Menurut data National Science Foundation di Amerika Serikat, jumlah perempuan dengan gelar sarjana di bidang teknik dalam 20 tahun terakhir memang meningkat. Namun jumlahnya masih berada di bawah laki-laki.

Selain itu, organisasi nirlaba American Association of University Woman menyebutkan bahwa jumlah perempuan yang bekerja di bidang STEM (Sains Teknologi Engineer dan Matematika) masih menyentuh angka 28% saja.

“Di tempat saya ada enam orang dari 110 engineer dan dua produk manager. Saya tidak tau statistik di luar atau di luar Tesla. Tapi 3-4 persen di otomotif mungkin sangat rendah,” ucap Moorissa.

Kedepannya, Moorissa berharap bisa mendirikan yayasan yang bertujuan untuk memberantas kemiskinan di Indonesia.